16 Maret 2010 at 19.17
Ass. Happy milad Ilham. Wish u all the best and Allah loves u more. Tk Papa Wass.. (Maaf bila salah tanggal) ni fkm lagi dies

16 Maret 2010 pk. 20.30
Wasw…Pak Pri apa kabar? Sy kangen pak sama dosen2 di fkm trtm bapak..Terima kasih Pak tp saya Milad tgl 29 Maret, he..he…
Iya saya tahu dari facebook, maap pak blm bs ke FKM sy masih magang di Kaltim..Salam utk semuanya ya pak…..

Priyadi NP 16 Maret 2010 at 20.33
Ha..,ha..ha…biar deh persekot dulu…love u Ilham c u soon

29 Maret 2010 at 09.05
Ass. Happy milad Ilham. Wish u all the best and Allah loves u more. Tk Papa Wass (When magang finish ?)

Bakti 29 Maret 2010 at 09.13
Wlkmslmwr..Syukron papa..Alhamdulillah I have finished my OJT pak pri, and Insya Alloh next thrsday i already arrive in semarang…Doanya ya pa..

Ini hadiah untukmu Ilham…..yang seharusnya ada di PH tahun 2008

JANGAN ALERGI PADA SENI

Sebuah Catatan kecil pada Pemilihan Presiden BEM FKM UNDIP Tahun 2008

Oleh : Priyadi Nugraha P., SKM,MKes
Staf Pengajar Bagian Promosi Kesehatan FKM UNDIP Semarang

“ ……kalau kau suka hati pilih Bakti ……..Bakti …….”

Bakti – lengkapnya Bakti Susilo Putro – dari kelas regular akhirnya memenangi ’kontes’ pemilihan Presiden BEM FKM UNDIP periode tahun 2008, mengubur impian saingan beratnya Tina – Tuti Nani Mutaniroh – dari kelas non reguler.
Pada ’election’ tersebut, Bakti bervisi ingin menggemparkan FKM dengan 10 orang pemudanya, sedangkan Tuti Nani mengusung seni dan menawarkan kepemimpinan yang bisa menyenangkan semua orang.
Nah …yang menjadi perhatian saya adalah …pada momentum tanya-jawab, sebagian (besar ?) mahasiswa mempertanyakan why mengusung seni ? Seni yang seperti apa? Ini bukan fakultas Sastra. Apa tidak lebih baik dengan mengedepankan kegiatan ilmiah/penalaran ilmiah kesehatan masyarakat dan pengabdian masyarakat?

Empat Pengetahuan
Sesungguhnya di dalam kehidupan kita ada pengetahuan yang namanya ilmu, agama, moral dan juga seni. Dengan ilmu hidup jadi lebih mudah. Penemuan listrik, telepon dan alat-alat transportasi membuat hidup lebih mudah, efisien dan terkendali karena manusia bisa memprediksi masa depan. Perkara yang dulu mustahil, sekarang bisa dibuktikan. Ke bulan yang semula hanya impian, sekarang sudah menjadi kenyataan dengan mendaratnya Neil Armstrong dan Edwin Aldrin pada tahun 1969.Dengan agama hidup jadi lebih terarah karena manusia mengenal Tuhannya. Hidup untuk apa, caranya bagaimana, adakah surga neraka ? terjawab dalam agama. Moral membuat hidup menjadi teratur karena ada aturan tentang baik buruk manusia secara keseluruhan, dan adanya seni membuat hidup menjadi lebih indah. Lebih indah dari merekahnya mawar merah dan terbitnya fajar di pagi hari.

Apakah Seni itu ?
Berikut dinukilkan tiga pengertian seni, menurut sastrawan, ahli filsafat dan agamawan sekaligus seniman.
Pengertian seni yang pertama diungkapkan oleh Mochtar Lubis. Menurut beliau – dalam buku Manusia Indonesia tahun 1978 – disebutkan bahwa “ seni merupakan daya inspirasi dan daya cipta manusia yang bebas dari cengkeraman dan belenggu berbagai ikatan”
Pada dasarnya ide dapat diekspresikan secara bebas tanpa ada belenggu apapun. Namun demikian, ide yang diekspresikan (seni) tetap harus dipertanggungjawabkan saat dipentaskan. Karena seni yang baik adalah seni yang merawat kehidupan, yang memberi manfaat untuk masyarakat. Karena dengan ekspresi tersebut masyarakat tercerahkan sehingga mampu memotivasi mereka untuk mengatasi masalah hidup.
Lagu-lagu dari kelompok musik Bimbo, juga OPICK kemudian sinetron semisal ’Lorong Waktu’ dan ’Para Pencari Tuhan’ yang digawangi Dedi Mizwar, termasuk puisi-puisi dari Chairil Anwar hingga karya penyair cilik Abdurrahman Faiz (10 tahun), bisa dijadikan sebagai contoh seni yang bertanggungjawab, seni yang merawat kehidupan, memberikan optimisme dan perbaikan kualitas diri dari waktu ke waktu. Beda dengan ekspresi seni Anjasmara dengan foto bugil dan taman firdausnya (tahu …kan !). Di bidang kesehatan, di Australia misalnya banyak dipakai pentas drama untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan seperti dalam upaya pencegahan penyakit AIDS. Salah satu judul yang terkenal adalah pentas ’Meninggalnya Putra Kesayangan Kami’. Sedangkan film serial TV-nya yang terkenal adalah ”The Flying Doctor”. Ini serial TV kesayangan saya pada masa kecil dulu. Di Indonesia pernah juga ada sinetron yang cukup sukses mengusung pesan-pesan kesehatan, yakni sinetron ’Dokter Sartika’ yang dibintangi Dewi Yull dan Dwi Yan.
Seni menurut Carl G.Jung – dalam buku Introduction to the Philosophy of Education tahun 1967 – disebutkan ” sebuah ciptaan yang maknanya tidak bersifat komunikatif, melainkan sekedar berarti bagi penciptanya sendiri bukanlah merupakan karya seni, melainkan suatu bentuk neurosis “
Pengertian seni seperti ini menuntut agar seni harus bisa dimengerti oleh masyarakat yang menjadi sasaran ekspresi seni. Seni harus ’berbicara’ sehingga sampai pada sasaran dan masyarakat beroleh manfaat yang sebesar-besarnya. Seandainya pidato Bung Tomo tidak berapi-api dan bersemangat, apakah mungkin arek-arek Suroboyo tersulut, tergugah dan tergerak untuk melawan penjajah Inggris yang datang ? Ini berkaitan dengan seni berbicara, pidato yang bisa menyihir massa untuk do something.
Begitu pula dengan poster kesehatan, sebagai salah satu bentuk media grafis, dan sekaligus ekspresi seni, harus komunikatif, harus ’berbicara’ sehingga sasaran yang dituju mudah menerima tanpa menimbulkan mis perception.
In my opinion, seni untuk seni tidaklah bijaksana, tetapi seni untuk merawat kehidupan.
Seni menurut Muji Sutrisno – dalam buku Seni,Cipta dan Politik tahun 2005- disebutkan bahwa ” seni adalah ekspresi kreatif yang merupakan tanggapan dari renungan seniman terhadap kehidupan masyarakatnya. Semua bentuk ekspresi seni, tidak memaksa orang lain untuk mendukungnya”
Ekspresi seni yang dimunculkan memang bisa menimbulkan pro maupun kontra, tentunya dengan alasan masing-masing. Seperti kasus penyanyi Inul Daratista, sah sah saja dia mengekspresikan seni dangdutnya plus goyang ngebornya. Namun tidak semua orang setuju atau pro dengan dia, itu yang harus disadari. Semua bentuk ekspresi seni tidak memaksa orang lain untuk mendukungnya. Jadi bila Bang haji Rhoma protes juga sah sah saja. Dan harus diingat pula bahwa seni bila masih dikonsumsi untuk diri sendiri, masih bersifat subyektif sedangkan bila berhadapan dengan masyarakat harus obyektif artinya terima pro dan kontranya dan pikirkan tanggungjawab moral dari seni yang dipentaskan, bila tidak ingin berhubungan dengan yang berwajib.
Di bidang kesehatan, kita yang mendalami ilmu kesehatan masyarakat harus memikirkan dan melakukan riset, ekspresi seni yang seperti apa yang bisa kita kendarai untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan. Apakah dengan kesenian tradisional seperti seni ’ndolalak’ yang juga dipakai untuk menyampaikan pesan malaria di suatu daerah di Purworejo. Atau dengan media TV yang berskala lokal seperti ’den Baguse ngarso’ –TV Yogja – atau Ketoprak ’humor’ yang berskala nasional. Pada masa lalu jauh sebelum televisi-televisi swasta bermunculan, TVRI memiliki acara ’RIA JENAKA’ yaitu modifikasi dari wayang orang terdiri dari Semar, Petruk, Bagong dan Gareng yang sering digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pemerintah termasuk pesan-pesan kesehatan. Dengan gaya, bahasa dan mimik yang lucu, pesan-pesan tersebut disampaikan.

Kaitan Ilmu, Agama dengan Seni
Kaitan antara ilmu dan seni, minimal bisa dilihat dari adanya tujuh keajaiban dunia. Borobudur misalnya, menunjukkan ketinggian ilmu, teknologi dan seni yang tiada tara. Manusia jaman sekarang, apa bisa menciptakan ’karya seni’ yang luar biasa seperti ini ?. Tengok pula Menara Pisa di Italia, Sphinx di Mesir, Taj Mahal di India dan lain-lainnya. Dengan prasasti dan peninggalan-peninggalan seni, kita dapat relajar banyak tentang masa lalu, belajar sejarah kehidupan manusia, termasuk kesehatan.
Disisi yang lain, Allah adalah Yang Maha Indah.Allah menyukai keindahan. (QS. As-Syams) Seni juga berfungsi sebagai ungkapan religiositas atau perasaan keberagamaan yang dimiliki setiap individu, dalam agamanya masing-masing. Sehingga muncul seni atau estetika Islami, Kristiani, Buddhis dsb.
Kalau ada peribahasa mengatakan ” Science without Religion is blind, but Religion without science is lame” so “ life without art is empty”. Yang artinya, Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh, maka kehidupan tanpa seni adalah hampa.

Public Health dan Seni
Winslow (1920) mengatakan “ kesehatan masyarakat adalah suatu ilmu (science) dan seni /ketrampilan (art) untuk mencegah penyakit, memperpanjang usia hidup, memelihara kesehatan jasmani dan rohani serta meningkatkan efisiensi, dengan jalan usaha masyarakat yang terorganisir untuk penyehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pendidikan setiap orang dalam prinsip kesehatan perorangan, mengatur usaha pengobatan dan perawatan guna diagnosa dini dan pengobatan pencegahan dari penyakit-penyakit dan mengembangkan badan-badan kemasyarakatan yang akan memberi jaminan bagi setiap orang di dalam masyarakat suatu derajat hidup yang cukup guna mempertahankan kesehatannya.
Nah …berangkat dari definisi Winslow ini, jelas disebutkan bahwa Public Health adalah suatu ilmu yang bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui upaya promotif dan preventif dengan cara-cara yang kreatif, inovatif dan solutif. Inilah perwujudan ‘seni’ yang merawat kehidupan. Merenungkan masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat, menemukan ide, melihat ke belakang apa yang sudah pernah dilakukan (terutama upaya promotif-preventif), mencari beragam alternatif dengan modifikasi –inovasi, menguji coba dilapangan agar menjadi solusi tepat terhadap masalah-masalah kesehatan masyarakat. Ringkasnya, menyehatkan masyarakat memerlukan seni tersendiri.

Sebagai penutup, kita yakin bahwa Allah SWT Maha Indah, senang akan keindahan. So, tidak perlu ’alergi’ pada seni karena keempat pengetahuan tersebut diperlukan dalam kehidupan kita -dan bahkan tidak terpisahkan- termasuk seni. Dan seni yang baik adalah seni yang merawat kehidupan, seni yang bagai matahari menyinari, menghangatkan dan mencerahkan.

………………………..
Now seni di fkm semakin menggairahkan ….

Be Sociable, Share!