CINTA IBU PADA PEMBANTU

Memberi inspirasi dalam hidup 😆

Salah satu wanita yang menjadi inspirasi dalam hidup aku sampai saat ini, adalah ibuku. Apa yang aku ungkapkan pada tulisan ini adalah salah satu lesson nan unforgettable, yang bisa disharing kepada para pembaca.

Di tiga tempat tinggal kami yaitu di kota Kudus, Semarang dan Yogyakarta kami memiliki 5 orang pembantu rumah tangga. Ada mbok Yem, mbak Teguh, mbak Rum, mbak Yayuk dan mbak Kus. Yang sudah menikah adalah mbok Yem dan yang paling tinggi pendidikannya adalah mbak Yayuk yang lulusan SMA. Semua pembantu di rumah kami tidak ada yang keluar karena tidak betah bekerja, tetapi keluar karena sudah siap menikah dan menjadi ibu rumah tangga.

Aku sebagai anak kedua dalam keluarga Bapak-ibuku, memang sejak kecil suka mengamati apa-apa saja yang dilakukan ibuku pada para pembantu di rumah, utamanya pada  saat awal mereka datang untuk memulai bekerja. Perilaku ibu memberi kesan mendalam  dalam hidup aku selanjutnya. Menurutku ibu cukup memberi bekal yang positif untuk para pembantu kami, diantaranya yang terekam dalam benakku adalah beberapa kisah berikut ini.

Ibuku selalu meminta para pembantu di rumah untuk mandi pagi terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas pekerjaannya, agar fresh dan wangi. Bukankah ‘ Annadlo fatu minal iman ?’ kata ibu berfilosofi. Benar juga pikirku, memang kebersihan adalah sebagian dari iman. Dengan cara ini ibu mulai menanamkan pada mereka agar belajar dan sekaligus mempraktikkan ajaran agama. Diantara mereka berlima, mbak yayuk dan mbak Kus yang ibadahnya paling ok.

Setelah mandi biasanya ibu meminta mereka untuk makan pagi atau sarapan dulu, sebelum beraktivitas. Minum juga sebagaimana mereka mau, teh susu ataupun air putih. Membiarkan perut mereka keroncongan selagi bekerja, adalah pantang bagi ibu.’ Kasihan masak mau kerja perutnya kosong….!  Kalau sakit malah ibu yang susah ‘. Kecuali mereka yang memang tidak biasa makan pagi, ibupun tidak memaksa, yang penting jaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Dengan cara ini, mereka sehat-sehat saja selama bekerja, tidak ada yang menderita penyakit serius. Bagiku ibu sudah mempraktekkan apa yang sudah disabdakan Baginda Nab Muhammad SAW,’ Ingat sehatmu sebelum sakitmu” Hal tersebut juga ditanamkan pada kami, sehingga jangan harap kami bisa berangkat sekolah sebelum sarapan dan minum teh atau susu terlebih dahulu. Kebiasaan tersebut kulakukan sampai aku dewasa kini.

Pada kesempatan yang lain, ibu dengan telaten mengajari mereka mencuci, menyetrika, memasak juga membersihkan rumah. Bagaimana mencuci dengan baik, bersih diajarkan ibu pada mereka. Ibu membedakan cucian warna putih dengan yang lain pada ember-ember yang berbeda. Pakaian sehari-hari anak juga dibedakan, terlebih pakaian bayi yang ada najisnya, tidak boleh dicampur. Selimut, sprei dan taplak meja disendirikan. Bagian mana boleh disikat, mana yang dikucek. Wah detail betul ya. Tapi gara-gara saya suka nanya ini dan itu pada ibu, sehingga saat para pembantu kami pulang, giliran saya deh yang harus ketiban sampur mencuci. Saya menuai pengalaman ini saat saya  kos –sebelum menikah- hingga dewasa kini.

Saat mengajari menyetrika juga begitu. Bagian-bagian tertentu harus mendapat perlakuan khusus. Baju mana yang akan digantung dengan hanger, mana yang harus dilipat. Pakaian dalam pun tak luput dari perhatian ibu, tetap harus rapi dan hati-hati agar nyaman dipakainya nanti. Mereka nampak agak canggung memakai setrika listrik. Biasanya mereka pakai setrika yang hitam -yang isinya arang- dengan bagian ujung bertengger miniatur ayam jago. Di kampung setrika model begini bisa dimasukkan singkong kedalamnya, jadi singkong bakar. Saya pun memetik hikmahnya dengan pernah memenangkan lomba menyetrika tingkat kecamatan pada acara pekan siaga pramuka tahun 1979 (wah dah lama,saat SD).

Pengalaman memasak lain lagi ceritanya. Aku indikator enak tidaknya masakan para pembantu di rumah kami. Di rumah walaupun saya badannya kecil, tetapi makannya paling banyak. Bila menurutku masakan mereka enak, yang lain biasanya merasakan hal yang sama. Di tempat kami para pembantu makan sama dengan yang dimakan keluarga, tidak membedakan. ”Ngapain dibedakan, nyusahin sendiri. Harus masak dua kali’  Dengan cara ini mereka akan lebih enjoy dan mungkin juga segan kepada kami. Dan itulah yang terjadi.’Kalau menanam bunga mawar’,  masak yang muncul bunga bangkai , ujar ibu berseloroh.

Pengalaman membersihkan rumah, mengepel misalnya. Tidak biasa pakai penyangga kayu untuk kaitkan kail pel.Namun pakai kaki atau tangan. Aku dan kakak laki-laki juga kena jatah gantian ngepel di hari minggu. Buat olah raga, dan nanti bisa bantu istri bersih-bersih rumah. ”Laki-laki juga harus prigel ngatur rumah lho! Kalau nanti istrimu nggak bisa, kamu harus ngajarin ! begitu kata ibu.Sampai sekarang kebiasaan itu terbawa, tiap pagi sebelum berangkat kerja, bantu bersih-bersih rumah, kamar tidur dan juga mengepel lantai. Tidak canggung dan tidak malu. Saat dewasa kini, saya mengerti melalui kuliah Pemberdayaan Masyarakat khususnya tentang ’gender”, bahwa aktivitas memasak, mencuci, menyetrika juga ngepel –mungkin yang lainnya juga- bukanlah aktivitas mutlak milik perempuan. Ini buatan manusia, bukan given dari Tuhan.

Sekarang ibu sudah tiada, ibu sudah berpulang pada Desember 2000, sehari menjelang hari Raya Idul Fitri. Namun pengalaman yang saya dapatkan sejak kecil, ibu tahu saya melakukan apa yang diajarkannya baik langsung maupun tidak langsung –lewat para pembantu-membekas pada saya . Pengalaman ini juga saya tularkan pada mahasiswa dimana saya mengajar dengan juga memodifikasinya. Misalnya pada mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat, saya mengajak mahasiswa untuk berfikir bahwa pembantu RT harus diberdayakan agar mandiri dan tidak selamanya jadi pembantu. Biarkan mereka kerja part time saja. Sehingga mereka bisa kerja pagi saat kita juga berangkat bekerja, dan sore atau malamnya mereka bisa pulang berkumpul dengan keluarga atau menuntut ilmu atau karir yang lain. Saya juga tunjukkan bahwa di Barat – Eropa dan Amerika – tidak ada pekerja pembantu rumah tangga. Adanya baby sitter, pekerja part time di rumah, di toko ataupun guru taman kanak-kanak. Dengan cara ini, saya berbakti pada ibu dan memanjangkan usia ibu.

BIODATA

Nama      : Priyadi Nugraha Prabamurti

Alamat    : Jl. Bukit Palem Hijau Gg. III/CJ-40 RT 03 RW XV

Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Semarang

No. Telpon : kantor   (024) 746 00 44     Psw : 112

Rumah  (024) 764 83 460

Hp.  081 228 40125

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba “menulis tentang orang-orang yang menjadi inspirasi dalam hidup kita’’ yang diselenggarakan oleh Helvy Tiana Rosa di website beliau, bulan April 2008 dan dari 100 artikel yang masuk, tulisan ini masuk  10 besar tulisan yang akan dibukukan bersama tulisan sang Pengarang Helvy Tiana Rosa.

Be Sociable, Share!