Note :

Cerpen kesehatan ini adalah karya mahasiswa bernama Ruth Kartikaningtyas, mhs.semester III. Cerpen ini merupakan salah satu tugas individual mahasiswa peserta kuliah Dasar Promosi Kesehatan, periode 2010/2011. Selamat menikmati cerpen ini dan temukan hikmah nya. 🙂

SKAK MAT!

Menjadi anak kost adalah perjuangan, harus menunggu waktu libur yang cukup untuk pulang. Menjadi anak kost adalah perjuangan, tapi kuliah di Kesehatan Masyarakat bukan kebetulan. Banyak aku mendengar tentang kesehatan, termasuk rokok yang sudah bertahun aku hirup asapnya dari Bapak dan kakakku. Lalu hanya mampu aku mengumpulkan ilmu,kekuatan,dan niat untuk meminta Bapak untuk berhenti merokok, mengingat usia orang yang kucinta itu sudah lima puluh.

Waktu libur dan pulang ke rumah adalah waktuku untuk “mempengaruhi” Bapak segera berhenti merokok. Kebal-kebul asap yang keluar dari mulut dan hidungnya, dan ada asap yang masuk ke paru-parunya, tiap hari, tiap sore, semakin menyuruhku untuk bicara.

”Pak, ayo berhenti ‘ngerokok…”

“Nanti..” jawab Bapak.

Masa’ aku kuliah di kesehatan, nantinya banyak kasih penyuluhan ke orang, Bapaknya di rumah masih ngerokok… Nanti keburu sakit, Pak.”

Bapak tak bergeming, tapi aku tahu Bapak mendengar dan punya kemauan untuk stop merokok.

“Pak, satu batang rokok itu bahayanya banyak. Ada bahan untuk pembuat aspal, bahan pembuat plastik, belum lagi bahan yang membuat Bapak ketergantungan sama rokok. Yang pengisap aktif saja sudah terpapar racun, apalagi pengisap pasif kayak aku dan Ibu.”

Bapak masih diam.

“Oh ya, Pak, perokok itu kan juga membuat jadi terlihat lebih tua, keriput-keriput. Coba deh Bapak bandingin…”

Aku mengambil napas untuk bercerita lebih seru dan Bapak semkin memperhatikan aku.

“Bapak dengan Oom Padang yang kerja di Dinas Kesehatan Semarang itu sama-sama senang olahraga, umur Bapak dengan Oom Padang juga sebaya kan? Tapi Oom Padang terlihat lebih gagah, lebih awet muda gitu, Pak! Itu salah satunya juga karena Oom Padang nggak merokok, Pak.”

“Oh ya?” Bapak mulai berreaksi, aku berharap jawaban minimal Bapak untuk mengurangi lalu berhenti merokok.

“Ibu,” aku memanggil melibatkan Ibu, “Bapak diingatkan untuk kurangi merokok, dong, dimulai dari setengah bungkus sehari.”

“Ibu sudah ingatkan tiap hari. Iya, Bapak mengurangi merokok jadi setengah bungkus sehari, tapi terus Bapak malah mengurangi rokok temannya.” Ibu tampak lebih emosional, lalu melanjutkan, “Perokok pasif itu lebih kena bahayanya lho, Mas…”

Kowe sesuk balik Semarang numpak apa, Nduk?” Bapak malah mengalihkan pembicaraan setelah banyak diam dan angguk-angguk.

Numpak kereta, Romo..” aku menjawab lalu senyum-senyum.

***

Pagi-pagi aku sudah bangun tidur, mandi lalu menyiapkan tas dan beberapa bekal yang bisa aku bawa ke Semarang. Ibu ikutan repot dengan menggoreng pisang dan menyiapkan bekal makan siang yang nanti aku makan di kereta. Satu jam kemudian aku merasa siap dan berangkat, namun ada gangguan perut dan karena saran Ibu, aku lalu kembali ke kamar mandi.

Gangguan sudah tersalurkan, aku merasa semua tas dan bekalku sudah dalam mobil yang akan mengantarku ke stasiun. Maka aku enteng saja masuk mobil, duduk di muka, duduk di samping Pak Kusir, eh…. salah, di samping ayahku, tentu saja setelah  berpamitan dengan Ibu. Di perjalanan aku meneruskan sarapan dan sempat tidur sebentar.

Sampai di stasiun, aku menggendong tas punggungku dan…… astaga! Paper bag yang berisi semua bekalku malah tertinggal di rumah.

“Bapak, tadi paper bag hijau nggak ikut dimasukkin ya?”

“Yang mana? Bapak nggak tahu. Lha itu barangmu sendiri malah lupa sendiri.”

Aduh, aku malu jadinya. Sifat pelupaku semakin parah sepertinya. Akhirnya aku lemas menunggu kereta datang sambil membayangkan nanti siang makan apa di kereta. Setelah membeli sedikit camilan pengganti bekal siang, aku duduk di samping Bapak yang mulai menyalakan rokok lagi.

“Lho, Bapak, katanya mau berhenti merokok?”

Bapak santai lalu menjawab, “Bapak mau berhenti merokok kalau kamu sudah berhenti lupa…”

Be Sociable, Share!