Untuk para peserta kuliah MK : Pemasaran Sosial dan KWU

Berikut ini salah satu pengalaman dari Mahasiswa Angkatan 2008 yang telah menyelesaikan tugas ‘buying condom’ please read carefully….and feel the experience…

Nama : Gangsar Lukmanjaya

NIM : E2A008053

TUGAS MK. PEMASARAN SOSIAL & KEWIRAUSAHAAN

PENGALAMAN MEMBELI KONDOM

Malam itu saya dan teman-teman tengah membahas tentang tugas Kewirausahaan yang diberikan Pak Pri. Ada Agung, Ahmad, Heru dan Labib. Tugas yang diberikan kepada kami ini terasa “waaaahhhhh….” bagi kami. Bagaimana tidak, membeli kondom adalah sesuatu yang mungkin menjadi pengalaman yang sangat menarik bagi kami.

Kami membahas bagaimana, dimana, dan dengan siapa kami akan membelinya. Sempat terjadi kontroversi juga dalam pembahasan itu. Sampai akhirnya ditetapkan saya akan membeli dengan Ahmad, Agung dengan teman ceweknya, Heru dengan pacarnya yang kebetulan sedang main ke Semarang, dan hanya Labib yang mendapat kesempatan untuk membeli kondom itu sendiri. Kami sepakat masing-masing kelompok untuk membeli kondom di apotek yang berbeda, agar si petugas apotek tidak curiga. Akhirnya perjalanan kami membeli kondom dimulai setelah malam mulai larut. Yang pertama pergi adalah Heru dengan pacarnya disusul oleh Labib, kemudian Agung dengan teman ceweknya dan giliran terakhir adalah saya dan Ahmad.

Sebelumnya, mungkin ini bukan kali pertamanya bagi saya untuk membeli kondom. Ya, saya pernah membeli kondom saat duduk di kelas dua SMA. Tapi jangan salah sangka, kondom itu tidak saya gunakan untuk berhubungan seksual. Saat itu sedang ngtrend-ngetrendnya hape yang memakai sarung dari bahan dasar karet. Banyak teman-teman yang hapenya memakai sarung karet. Sebagai remaja yang normal, kala itu saya juga ingin hape saya disarungi karet. Namun saya adalah orang yang ingin terlihat berbeda dari yang lain, saya tidak ingin terlihat sama dan standart seperti yang lain. Dan akhirnya muncullah ide kreatif gila saya yang memang sering keluar saat dibutuhkan. Dan pergilah saya ke Indomart yang tidak jauh dari sekolah. Saya juga mengajak teman saya yang juga tertarik dengan ide gila saya. Setelah masuk ke Indomart, kami mulai memilih-milih kondom yang sudah dipajang di rak-rak. Ada beberapa merk kondom disana, karena bingung memilihnya akhirnya kami ambil kondom yang harganya paling murah. Kondom fiesta yang satu pack berisi tiga buah kondom. Saat akan membayarnya tiba-tiba saya melihat tetangga saya yang ternyata juga berbelanja di situ dan saat itu tengah mengantri di kasir. Dalam benak saya, saya pasti malu besar jika tetangga saya tahu saya membeli kondom, mau ditaruh dimana muka ini. Akhirnya saya berpura-pura mencari barang lain sambil menunggu si tetangga keluar dari Indomart. Setelah si tetangga keluar, kami mengantri untuk membayar kondom itu. Setelah mendapat giliran kami pun membayarnya. Kebetulan saat itu kasirnya seorang cewek, dia terlihat menahan-nahan senyum sambil sesekali matanya mencuri pandang ke arah selangkangan saya. Saya jadi salah tingkah sendiri. Setelah menerima kembalian kami langsung pergi. Dan akhirnya saya ambil satu kondom itu dan saya cuci sampai bersih karena terdapat minyak pelumas pada kondom itu. Setelah kering, kondom itu pun saya pakai sebagai sarung hape saya. Terlihat sangat unik sekali hape saya setelah bersarungkan karet kondom. Sangat berbeda dengan teman-teman lain. Esoknya saat teman-teman melihat hape bersarungkan karet kondon itu membuat mereka tertawa-tawa dan sesekali mengatai saya gila. Itulah pengalaman pertama saya membeli kondom.

Kita kembali ke cerita awal saat saya dan Ahmad akan membeli kondom. Malam itu kebetulan kami mendapat jatah untuk membeli di Apotek Tembalang. Saya sendiri sudah berdandan layaknya seorang penjahat kelamin. Saya memakai sarung dan jaket kumal, sedang Ahmad memakai celana kolor pendek dan kaos oblong. Sebelumnya kami sudah membagi tugas, saya yang akan masuk dan membeli kondom sementara Ahmad menunggu di pintu apotek dan berlagak malu-malu.

Karena saat itu sudah cukup malam maka apotek itu pun sudah terihat sepi. Saya masuk ke apotek dan disambut hangat oleh seorang laki-laki penjaga apotek itu.

“Selamat malam mas, mau cari apa? Bisa dibantu?”, begitu sambutan si laki-laki.

“Kondom ada mas?”, jawab saya singkat.

Wajah si mas penjaga itu tiba-tiba berubah, kaget mungkin. Kemudian dengan tersenyum-senyum si mas itu menunjukan tempat kondom yang berada di etalase. Ada bermacam-macam merk disitu. Si mas itu menyuruh saya memilih saja. Saya mulai bertanya-tanya mana kondom yang bagus dan berapa harga masing-masing merk itu. Si mas menjelaskan dengan singkat dengan masih tetap tersenyum-senyum. Ada kondom yang bermacam-macam rasa dan ada pula yang bergerigi. Ketika saya tanya tentang keamanan kondom yang bermerk fiesta si mas malah menjawab sambil tertawa.

“Waduh gak tau mas kalo itu, mas coba aja sendiri..” begitu katanya.

Akhirnya saya memilih kondom fiesta, dan membeli dua pack. Rasa cokelat dan rasa strawberry. Harganya Rp 10.000,00. Kebetulan saat itu saya hanya membawa uang 50.000, dan saya bayarkan. Si mas itu memberikan uang kepada seorang wanita yang mungkin kasirnya. Wanita itu sedari tadi memperhatikan percakapan kami. Setelah itu si mas itu pergi begitu saja entah kemana. Si wanita itu mendekati saya sambil membawa uang kembalian. Saya pikir dia akan mengucapkan terimakasih. Ternyata tidak, dia tidak berkata apapun dan memberikan uang kembalian dengan sedikit melemparkan uangnya di atas etalase yang ada di depan saya sambil membalikan badan dan melangkah pergi. Wajahnya terlihat tidak menyenangkan dan sedikit cemberut-cemberut. Sangat tidak enak dilihat. Dan saya melangkah keluar apotek, setelah saya keluar si wanita dan si mas tadi langsung menutup apoteknya. Kemudian saya dan Ahmad pulang. Di kontrakan Heru, Agung dan Labib sudah tiba lebih dahulu. Kami pun saling bertukar cerita seputar pengalaman itu. Hasilnya memang tak jauh berbeda dengan yang lain. Heru membeli kondom yang bergerigi dan dicoba untuk dibuka. Tadinya saya pikir kondom bergerigi itu geriginya besar-besar, ternyata geriginya kecil-kecil. Dan kondom yang saya belipun berbeda warna antara yang berasa cokelat dengan yang strawberry. Yang rasa cokelat warnanya cokelat kehitam-hitaman sedaang yang rasa strawberry berwarna merah.

Kesimpulan yang saya ambil adalah masih sangat tabu seorang remaja membeli kondom apalagi malam hari. Karena hubungan seksual remaja dianggap tabu bagi masyarakat di Indonesia dan tidak sepantasnya untuk dilakukan.

 

Be Sociable, Share!