Artikel buying condom ini, karya : Karya Wijaya feat Mifanatul Khairiyati

Read…..and feel the experience……………….

 

Pengalaman terbaruku,,

Malam minggu sekitar pukul 22.30 tepatnya diapotik sana farma jl kedungjati semarang, disitulah pertama kali saya memberanikan diri membeli kondom. Hati terasa bingung dan was-was, karena dalam pikiranku seperti mau menjalanin tugas yang bersangkutan dengan kehormatanku. Tapi tetap saja kuberanikan diri untuk membeli kondom.

Pada malam tanggal 17 april itu aku dan temanku ngerencanain membeli kondom diluar jangkauan kampus undip. Hal ini dilakukan karena sebagian besar apotik disekitar undip khususnya daerah undip tembalang sudah mengetahui maksud kita membeli kondom untuk tugas, jadi dari pada esensi tugas tidak didapat maka keputusan membeli kondom diluar jangkauan kampus undip tembalang pun kami lakukan.

Agar lebih menarik perhatian petugas dan pengunjung apotik, aku mengajak teman satu kelasku yang perempuan yaitu mifannatul khairati. Sebelum berangkat membeli kondom kami berdua merencanakan skenario seperti pasangan muda yang lagi kasmaran atau bahasa kerennya lagi dimabuk cinta, tapi sebelumnya kita juga membaca petunjuk tugas yaitu poin-poin apa yang akan ditanya. Hal ini juga sebagai pedoman kita biar sok suci alias tidak tahu apa-apa masalah kondom.

Jam 7.30 kita berangkat dari tembalang menuju semarang bawah untuk makan terlebih dahulu, habis itu kita berangkat mencari apotik. Akhirnya ketemu juga apotik sana farma yang tempatnya di jalan kedungjati (sekitar rumah sakit dr. kariadi) semarang. Ketika sampai depan apotik, ternyata ada pembeli obat yang bersamaan masuk bareng kita. Kemudian apotekernya melayani pembeli obat terlebih dahulu, setelah itu baru kita yang dilayani.

Aku: mbak ada kondom?

Apoteker: ada mas, mo yang mana?

Aku: kondomnya apa saja mbak?

Apoteker: bentar mas (mengambil berbagai macam kondom dalam laci)

 

Dalam pecakapan awal ekspresi yang pertama dilihat yaitu ketika apoteker yang langsung kaget dengan menatap kearah kami. Selain itu pembeli obat yang masih ada disitu langsung melihat kami. Ekspresi mereka seakan menganggap kita pembeli yang spesial, artinya yaitu pembeli yang mungkin masih agak dianggap tabu, apalagi jika memandang umur atau tampang kita yang masih muda-muda. Seperti itulah cara mereka memandang kita. Mungkin mereka juga menilai lebih dalam tentang kita. Selanjutnya terjadi percakapan lagi.

Apoteker: (meletakkan kondom dihadapan kita) emang udah punya anak berapa mas?

Aku: (serentak kita berdua kaget dan bingung) ohh belum punya ko mbak, mau menunda aja. Kita pasutri baru, lagian masih kuliah, walau beda kuliahnya. Jadi pengen ngrasain jah tapi biar gak kebobolan.

Apoteker: oh gitu toh

Aku: (berbagai macam kondom diletakkan dihadapan kita) kondom paling bagus kualitasnya yang mana mbak?

Apoteker: yang ini mas(durex extra safe)

Aku: owww,,, emang kenapa mbak ko paling bagus?

Apoteker: kalo yang ini tipis mas, terus lebih kuat dan lebih enak

Aku: enaknya kenapa mbak, apa lebih kerasa ya mbak?

Apoteker: ya (senyum-senyum mungkin bingung liat tingkah kita yang gak tahu apa-apa)

 

Dari percakapan diatas sontak kita kaget karena apoteker tiba-tiba ngira kita sebagai pasangan suami istri. Demi akting yang disusun awal tetep saja kujawab bahwa kita pasutri baru yang belum siap punya anak dan hanya pengin menjalankan hubungan terlebih dahulu. Kemudian aku tanya kondom yang berkualitas dan bagus, apoteker langsung menjawab  durex extra safe. Alasan apoteker karena lebih kuat dan tipis sehingga lebih menikmati jika berhubungan.

Aku: mbak kalo harganya beda-beda yah?

Apoteker: ya mas, lo yang fiesta harganya Rp 5.500 kalo yang sutra merah harganya Rp,3.000 kalo yang durex harganya Rp 12.400

Aku: kalo yang ini mbak?(menunjukkan fiesta dalam bungkus besar)

Apoteker: yang itu harganya Rp,30.000, karena isinya banyak terus ada bonus ring, kalo yang biasa g da bonusnya, isinya juga 3 kondom

Aku: emang kalo ring buat apa mbak?

Apoteker: gak tahu mas.

Aku: oya mbak, yang ada rasanya emang bener-bener toh? Kaya apa yah? (sok ga tahu)

Apoteker: ya mas ada rasa buah tapi Cuma merek fiesta doang, rasa dalam kondom bisa bikin orang pingsan jika tidak kuat mencium baunya. (serius njelasin)

Aku: oh gitu toh mba, sampai bisa nimbulin pingsan.(membayangkan) Mbak kalo bentuk kondom katanya bermacam-macam, bener gak mbak?

Apoteker: ya mas, bisa dilihat dalam wadah karton biasanya ada gambar kondomnya. (sambil melihatkan petunjuk dikarton kondom)

Aku: ow gt toh mbak(sambil melihat-lihat gambar kondom), oya mbak yang paling sering dibeli orang yang mana mbak?

Apoteker: biasanya durex mas, tapi juga kadang fiesta juga

Aku: ow gitu y mbak, kita beli yang durex, biar lebih kerasa dan aman.

Apoteker: ini mas, terima kasih yah(sambil ngasih kresek plastik putih berisi 1 karton kondom)

Aku: terimakasih mbak

Akhirnya kita berdua keluar dari apotik. Sesampainya dihalaman parkir, kita berdua akhirnya ketawa setelah ditahan. Pasangan yang aku ajakpun bercerita, dia menahan ketawa dari awal kita dikira pasutri.

Setelah tahu kualitas kondom yang paling bagus dan aman, kita tanya harga dari tiap-tiap kondom. Dihadapan saya terdapat tiga merek kondom yaitu sutra, fiesta, dan durex dengan masing-masing macam jenis. Harga durex rata-rata Rp 12.400, kemudian harga sutra rata-rata Rp,3.000 dan harga fiesta berbagai rasa rata-rata Rp. 5.500, tapi khusus karton besar harganya Rp,30.000. Dari ketiga merek tadi yang paling mahal yaitu durex, hal ini disebabkan karena kualitas dari merek tersebut.

Ternyata kondom juga terdapat  macam-macam bentuk, jenis dan rasa khususnya merk fiesta. Terdapat juga bonus ring pada pembelian paket besar. Untuk kondom yang ada rasanya menurut pendapat apoteker katanya bisa nyebabin orang pingsan jika tidak cocok dengan bau dari rasa itu. Akhirnya kita membeli kondom dengan merk durex yang berkualitas dan biar meyakinkan penjual agar percaya akting kita. Itulah pengalaman pertama dalam hidupku untuk membeli kondom. Pengalaman yang tidak bisa dilupakan.

Be Sociable, Share!