Catatan : artikel ini diambil dari milis upp fkm undip…entah siapa yang menulis, but di send oleh Mr. Topo.

Bisa untuk renungan kita para orang tua dan calon orang tua, please read slowly

“A Love Tribute for Children”

“Children are the hands by which we take hold of heaven” – Henry Ward Beecher.

Minggu, 8 Mei dini hari, aku terbangun. Ada suara-suara bisikan dari ruang tengah. Kulihat putraku, 20 tahun, menangis terisak di pangkuan ibunya. Aku mendekat, istriku menoleh dan secara telepatik mengajak aku ikut duduk, sambil kedua tangannya tetap mengelus kepala anak kami.

Putraku baru saja kehilangan salah satu sahabatnya. Mereka berteman sejak kecil dari SD Al Azhar sampai kuliah bareng di SBM-ITB. Zaldy (bukan nama sebenarnya), pulang dari pesta ultah di Kemang menabrak pohon dan terlontar ke jalan raya, meninggal seketika.

Kita tak mungkin mengerti rencana Tuhan. Kita sering bikin rencana proyeksi 5 tahun ke depan, namun tak pernah bisa tahu pasti apa yang kan terjadi 5 detik lagi.

Semua peristiwa tentu ada maknanya. Tahun lalu, sahabatku kehilangan putranya yang bersiap kembali ke Amerika untuk meneruskan program doktor. Ratusan pelayat alumni ITB yang datang, saat pulang, semua, malam itu juga buka hape dan menelpon putra/putri masing-masing, terutama yang sedang sekolah/kuliah di luar Jakarta.

Ketika Tuhan memberi tanda, saat hati dilanda risau, mendengar suara anak yang Alhamdulillah baik-baik saja di lain kota, di luar pulau, di seberang benua, mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga komunikasi dengan mereka. Terutama saat serbuan informasi internet dan pengaruh lingkungan semakin membuat mereka asyik dengan dunianya.

“A child seldom needs a good talking to as a good listening to” – Robert Brault.

Tanpa terasa, saat kita sibuk meniti karir (jembatan kalee!) mereka tumbuh begitu cepat. Belum lama rasanya merekam tumbuhnya gigi susu, atau ketika mereka menghebohkan seisi rumah saat pertama tertatih melangkah. Kini mereka ogah diajak jalan bareng karena lebih suka ngumpul bersama temannya.

“You can learn many things from children. How much patience you have, for instance” – Franklin P. Jones.

Populasi anak-anak hanya sepertiga jumlah umat manusia, tapi kita sering lupa bahwa 100% masa depan ada di tangan mereka. Kahlil Gibran bersyair, bahwa ‘anak bukanlah milik kita, kita hanyalah busur yang mendorong anak panah (putra putri kita) melesat menuju masa depan’.

“Children are the living messages we send to a time we will not see” – Neil Postman in ‘The Disappearance of Childhood’.

Pernah beredar cerita lebay tentang anak yang menabung agar bisa membayar 1 jam waktu ayahnya. Barangkali cerita itu hanya dramatisasi, tapi moral cerita tetap abadi bahwa anak butuh cinta dan perhatian kita. Even when there are times when they don’t deserve it ;-).

Mereka tumbuh tak sabar. Kita harus bekali dengan iman, ilmu dan etika. Tak perlu terlalu khawatir tentang minimnya role model di negeri ini. Malah bagus, agar mereka tak keliru ingin jadi anggota DPR atau meniru Gayus. Rabindranath Tagore yakin bahwa, ‘Every child comes with the message that God is not yet discouraged of man’.

“While we try to teach our children all about life, our children teach us what life is all about” – Angela Schwindt.

Saat mereka dewasa nanti, negeri ini bakal beruntung karena mereka terlahir di bumi pertiwi. Dalam kesibukan selalu luangkan waktu untuk bercakap dengan mereka. Mereka akan rekam semuanya dalam hati. Suatu saat percakapan itu akan muncul sebagai kompas jiwa ketika mereka berada di persimpangan jalan kehidupan. Tak beda dengan saat kita ingat pesan orang tua sewaktu kita menghadapi dilemma.

“It is easier to build strong children than to repair broken men” – Frederick Douglass.

Terus buka jalur komunikasi, ngobrol dengan putra/putri kita. Curi cium keningnya ketika mereka lelap tidur. Cicipi airmatanya. Tuhan terus mengirim anak-anak ke negeri ini, karena Indonesia sangat butuh cahaya.

Dan hanya mereka yang pantas membawanya.

Amrie Noor

Minggu, 15 Mei 2011.

Be Sociable, Share!