Manajemen Mesjid

A. Pendahuluan

Secara harfiah Manajemen berarti mengelola atau mengatur sedangkan mesjid berarti tempat sujud. Sehingga manajemen mesjid berarti mengelola atau mengatur tempat sujud (tempat sholat). Melihat sifat tempat sujud yang harus bersih, tenang (tentram), indah, dan nyaman, maka manajemen mesjid harus diarahkan untuk menciptakan mesjid yang bersih, tenang (tentram), indah, dan nyaman. Melihat tujuan sujud yaitu meningkatkan iman dan taqwa, maka manajemen mesjid harus diarahkan pada pembentukan masyarakat (jamaah) yang bertaqwa,kuat imannya dan solid ukhuwahnya.

 

Manajemen mesjid yang diarahkan untuk menciptakan mesjid yang bersih, tenang

(tentram), indah, dan nyaman termasuk dalam manajemen fisik mesjid. Manajemen mesjid yang diarahkan pada pembentukan masyarakat (jamaah) yang bertaqwa, kuat imannya dan solid ukhuwahnya termasuk dalam manajemen fungsi mesjid. Sehingga Manajemen mesjid terbagi kedalam dua bagian besar yaitu manajemen fisik mesjid dan manajemen fungsi mesjid. Jika dirinci lebih lanjut, maka manajemen fisik mesjid mencakup hal-hal sebagai berikut :

 

1. Pengaturan pembangunan fisik mesjid.

2. Penjagaan kehormatan, kebersihan, ketertiban dan keindahan mesjid (termasuk taman dalam lingkungan mesjid-kalau ada).

3. Pemeliharaan tata tertib dan ketentraman mesjid, dan

4. Pengaturan keuangan dan administrasi mesjid.

 

Sedangkan manajemen fungsi mesjid jika dirinci lebih lanjut mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Pengentasan kemiskinan iman.

2. Pendidikan akidah Islamiyah.

3. Pembinaan Akhlakul Karimah, dan

4. Pembinaan ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat.

B. Dalil Naqli

Banyak sekali ayat-ayat naqli yang menyuruh kita agar memperhatikan pengelolaan

(manajemen) mesjid untuk menciptakan insan-insan bertaqwa. diantaranya adalah :

“ Tiada berhak orang-orang musyrik memakmurkan mesjid Allah, sedang mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri dengan kekafiran. Mereka itu hapuslah sekalian amalannya dan didalam neraka mereka kekal selama-lamanya” (Qs At-Taubah ,9:16)

“Hanya yang memakmurkan mesjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta mendirikan sembahyang dan mengeluarkan zakat sedang ia tidak takut kecuali

kepada Allah saja. Mudah-mudahan mereka itu termasuk orang yang mendapat petunjuk” (QsAt-Taubah ,9:17)

 

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, sebab itu

janganlah mereka menghampiri masjidil haram sesudah tahun ini. Jika kamu takut jatuh miskin, nanti Allah akan mengayakan kamu dengan Karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Qs At-Taubah ,9:28).

 

“Dan orang-orang yang membuat mesjid untuk memberi kemelaratan dan kekufuran, lagi

memecah belah antara orang-orang yang beriman dan untuk mengintip bagi orang yang

memerangi Allah dan Rasulnya dari dahulu. Mereka bersumpah : Bukanlah kami membangunmesjid ini selain kebaikan. Allah mengetahui bahwa mereka itu orang-orang yang dusta” (Qs At-Taubah ,9:107).

 

“Janganlah engkau mendirikan sembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang berasaskan taqwa dari permulaan haru berdirinya, lebih baik bagi kamu mendirikan sholat di dalamnya. Dalam mesjid itu ada beberapa orang laki-laki yang suka menyucikan dirinya. Dan Allah mengasihi orang-orang yang bersuci” (Qs At-Taubah ,9:108).

“ Manakah yang lebih baik, orang yang mengasaskan pembangunan mesjidnya atas taqwa

kepada Allah dan keridhaan-Nya, atau orang yang mengasaskan pembangunan mesjidnya diatas

tepi jurang yang hampir runtuh, lalu ia jatuh bersama-sama bangunannya itu ke dalam neraka

jahannam ? Allah tiada menunjuki kaum yang aniaya “(Qs At-Taubah ,9:109).

 

C. Permasalahan Mesjid Pada Umumnya

 

C.1. Pengurus kurang aktif

 

Pengurus mesjid adalah pengurus yang memiliki motto dari jamaah, oleh jamaah untuk jamaah.

Sehingga pengurus mesjid dipilih dari jamaah yang tinggal di lingkungan mesjid. Permasalahan yang sering

muncul adalah pengurus mesjid terlalu sibuk sehingga jarang aktif. Jarang aktif secara otomatis akan

membuat sedikitnya program yang dapat diperbuat. Sedikitnya program yang dibuat akan menyebabkan

masjid tidak mampu memberi warna bagi jamaah disekitarnya. Akibat akhir dari semua ini adalah semakin

sedikit jamaah yang aktif ke mesjid atau seandainya ada jamaah yang tetap ke mesjid maka tidak akan ada

usaha memikirkan pengembangan mesjid.

Kurang aktifnya pengurus mesjid membawa pengaruh psikologis kepada jamaah sekitarnya. Pengaruh

psikologis yang biasanya muncul adalah ‘cuek’ atau bersifat tidak peduli dengan keadaan mesjid.

 

C.2. Jamaah pasif

Faktor jamaah pasif di mesjid, kebanyakan karena alasan “sibuk”. Untuk masalah pembangunan mesjid

misalnya, sebagian jamaah kurang antusias untuk renovasipun kurang bersemangat. Di samping karena Di bidang

finansial, pada umumnya mesjid komplek kurang mendapat masalah. Tetapi masalah yang kerap dikeluhkan adalah

sedikitnya jamaah yang mau sholat berjamaah ke mesjid. Disinilah letak kepasifan jamaah. Jikalau masyarakat sekitar mesjid tidak pernah atau jarang ke mesjid untuk sholat berjamaah, bagaimana mungkin tercipta ukhuwah

yang terjalin kuat antar warga, padahal sholat berjamaah bertujuan untuk mengokohkan persatuan dan kesatuan di

tengah-tengah masyarakat sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berperang pada jalannya , dengan berbaris-baris

seolah-olah seperti bangunan tembok yang sangat rapat (menjadi satu) ” (Qs As-Shaf ,61:4)

 

C.3. Berpihak pada satu golongan atau paham.

Pengurus mesjid yang berpihak pada satu golongan atau paham bukan saja membuat jamaah pasif, tetapi dapat menimbulkan perpecahan diantara jamaah masyarakat sekitar masjid. Keberpihakan kepada satu golongan/paham apalagi yang sifatnya furu’iyah (cabang-cabang) sudah bukan zamannya untuk diterapkan di mesjid komplek. Semua tahu warga komplek berasal dari berbagai suku, bahasa dan kultur. Masyarakat komplek

juga bervariasi dalam tingkat pendidikannya baik pendidikan umum maupun pendidikan agama.

Pengurus mesjid yang berpihak pada satu golongan atau paham menunjukkan kurangnya kesadaran dan wawasan keislaman pengurus. Keberpihakan pada satu mazhab tertentu dengan tidak mengakui mazhab yang lain

tidak perlu terjadi pada pengurus mesjid komplek.

C.4. Masjid ‘Nganggur’

Mesjid ‘nganggur’ disini bermakna bahwa suatu mesjid banyak sekali menganggurnya daripada berfungsinya. Mesjid nganggur mempunyai ciri-ciri :

_ Hanya ramai di hari Jum’at (pada waktu Sholat Jum’at) sementara hari lainnya, mirip

seperti museum (bangunan pajangan).

_ Program pembinaan jamaah (ta’lim) tidak ada.

_ Program pembinaan remaja (ta’lim) tidak ada.

_ Program pembinaan anak-anak (sejenis TQA dan TPA) tidak ada.

_ Perayaan hari-hari besar agama Islam tidak ada

D. Solusi

Adapun beberapa solusi dalam memecahkan permasalahan manajemen mesjid dapat dirangkum kedalam

tiga bagian besar yaitu Perencanaan, pengorganisasian dan pengevaluasian yang baik.

D.1. Perencanaan

Membuat perencanaan yang baik merupakan awal dari kesuksesan suatu usaha. Perencanaan dapat dimulai ketika mesjid belum ada, sampai mesjid menjadi makmur. Perencanaan disini mencakup :

1. Perencanaan fisik mesjid. Perencanaan ini termasuk merencanakan berapa besar ukuran mesjid, bentuk mesjid, taman mesjid, dan kamar mandi /tempat wudhu mesjid. Harus diupayakan supaya jamaah/masyarakat sekitar betah berlama-lama di mesjid. Hal ini semacam daya tarik awal ( interest) kepada para jamaah.

2. Perencanaan program mesjid. Perencanaan ini termasuk merencanakan Program pembinaan jamaah (ta’lim),

Program pembinaan remaja (ta’lim), Program pembinaan anak-anak (sejenis TQA dan TPA), Program Khutbah Jum’at dan beberapa program lainnya. Program-program ini akan mengakibatkan jamaah muncul keinginan ( desire) untuk melibatkan anaknya seperti dalam TQA dan TPA serta Pengajian remaja. Hal yang berikutnya diharapkan dari jamaah adalah kerja ( action) dalam setiap kegiatan-kegiatan mesjid (seperti pelatihan khutbah Jum’at ini). Setiap jamaah komplek hendaknya diusahakan melalui step-step Interest-Desire-Action. Ketertarikan jamaah harus dibangkitkan untuk memunculkan keinginan aktif yang diwujudkan dengan keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan mesjid.

 

D.2. Pengorganisasian

Dalam manajemen mutu ada istilah Gugus Kendali Mutu (GKM). Pelaksanaan GKM dilakukan secara berkala

(biasanya setiap minggu). Di IPB ada istilah Rabuan yang merupakan wadah berkumpul staf pengajar masing-masing jurusan untuk membicarakan jurusannya setiap hari Rabu. Pengurus mesjidpun hendaknya berbuat seperti itu. Misalnya saja “malam mingguan” yang bermakna bahwa seluruh jamaah dan pengurus mesjid berkumpul setiap malam minggu (ba’da Isya) untuk membicarakan tentang program, perkembangan dan kegiatan mesjid.

Jika pertemuan berkala tersebut dapat terlaksana, Insya Allah problema pengurus yang kurang aktif dapat dibahas dalam pertemuan tersebut dan diusahakan untuk mencari pengganti yang lebih baik. Pertemuan berkala ini sekaligus untuk menggalang jamaah agar tidak pasif dalam kegiatan-kegiatan mesjid. Persoalan waktu perlu dipikirkan yaitu waktu yang leluasa bagi warga komplek untuk kumpul (jangan dibuat malam senin, karena besoknya semua warga komplek akan berangkat pagi).

Suatu catatan bagi pengurus juga untuk tidak melibatkan satu orang anggota jamaah terlalu banyak kegiatan sementara yang lainnya nganggur karena alasan kerjanya lebih baik dari pada yang nganggur. Setiap jamaah mestinya dilibatkan (seperti penyediaan konsumsi yang dibagi-bagi kepada para jamaah ibu-ibu)

 

D.3. Pengevaluasian

Evaluasi setiap kegiatan atau program yang telah telah dilakukan mutlak dilakukan untuk membuat kegiatan mendatang lebih baik lagi. Evaluasi dapat dilakukan begitu selesai kegiatan. Sebaiknya evaluasi kegiatan jangan ditunda-tunda, karena beberapa catatan penting akan hilang karena lupa. Melalui evaluasi ini juga dapat diketahui

perkembangan jamaah mesjid. Pengurus yang berpaham ke satu golongan juga dapat diketahui melalui evaluasi ini. Kegiatan musyawarah merupakan cara terbaik untuk mengatasi pengurus yang berpihak pada satu paham.

 

E. Manajemen Sholat Jum’at

E.1. Persiapan

Persiapan keperluan sholat jum’at harus diperhatikan oleh masing-masing pengurus mesjid. Jangan sampai ketika jamaah akan berwudhu, airnya tidak ada. Artinya masalah air wudhu menjadi masalah utama karena banyak jamaah yang wudhu di mesjid. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebersihan mesjid. Teras mesjid harus bersih (kalau bisa di pel) sebelum Jum’at untuk antisipasi jika jamaah tidak tertampung dalam mesjid dan meluber sampai ke teras mesjid.

Sound system juga harus diperhatikan, jangan sampai ketika khatib sedang dimimbar, suara dari mic putus-putus

atau mati sama sekali. Hal ini akan mengganggu konsentrasi jamaah dalam mendengar khutbah. Hal ini juga

akan memicu ributnya jamaah karena jamaah tidak mendengar apa yang diuraikan oleh khatib.

 

E.2. Pelaksanaan

Pelaksanaan sholat Jum’at mestinya memperhatikan waktu masuk sholat. Jangan terlalu lama mulai berkhutbah karena akan mengganggu konsentrasi jamaah. Biasanya jamaah setelah jum’atan banyak urusan yang akan diselesaikan, apalagi perut lapar. Terlalu lama mulai berkhutbah biasanya akan menyebabkan lamanya selesai sholat Jum’at.

Materi khutbah kalau bisa disesuaikan dengan keadaan zaman atau perkembangan zaman. Sudah tidak zamannya lagi membaca buku khutbah jum’at yang isinya kebanyakan tidak sesuai dengan perkembangan zaman kecuali yang sifatnya ibadah dan akhlak. Sebaiknya pengurus membuat tabel khotib jum’’at serta masalah yang akan diangkat untuk khutbah Jum’at. Tabel khotib penting untuk menghindari kesulitan mencari khotib.

Sebaiknya tema isi khutbah menjawab kenyataan di tengah umat seperti:

_ memantapkan akidah Islamiyah dalam jiwa ummat.

_ Menanamkan pengertian jamaah tentang agama.

_ Memelihara hubungan ukhuwah Islamiyah.

_ Menumbuhkan akhlakul karimah

_ Membangkitkan semangat bekerja untuk mendapat hidup yang layak.

_ Memelihara persatuan umat.

 

E.3. Evaluasi

Evaluasi perlu dilakukan untuk tidak membuat kesalahan yang berulang-ulang. Seandainya khatib terlalu lama

menyampaikan khutbahnya, maka pengurus harus mengingatkan khatib agar untuk waktu mendatang lebih mempersingkat khutbahnya. Jika Sudah diperingatkan 3 kali masih seperti itu juga, sebaiknya khatib tersebut tidak dimasukkan lagi ke dalam jadwal khatib untuk waktu mendatang. Khatib yang perlu ditegur adalah khatib yang :

_ Lupa rukun khutbah (misalnya tidak membaca shalawat nabi).

_ Bercanda dalam khutbahnya sehingga membuat jamaah tertawa.

_ Khutbahnya terlalu panjang.

_ Suaranya terlalu lemah sehingga tidak kedengaran.

_ Isi khutbahnya menghujat kaum muslimim yang lain.

_ dll.

 

F. Penutup

Beberapa fungsi mesjid seperti tempat sujud dan bermusyawarah tidak akan terwujud secara optimal kecuali dengan menerapkan suatu manajemen yang baik. Mesjid akan menjadi lebih dinamis, responsif dan makmur karena adanya aktivitas-aktivitas dengan manajemen yang baik.

 

Wallahua’alm bisshawab

 

 

 

Be Sociable, Share!