Menghadiri Acara Seminar Nasional Kesehatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya bekerjasama dengan PERSAKMI (Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia) pada hari Jum’at, tanggal 15 Oktober 2015 di Grand Kahuripan 300, Rektorat Universitas Airlangga Lt.3

Tagline : Pembangunan Berwawasan Kesehatan untuk Peningkatan Kualitas Hidup manusia Indonesia “

Memasukkan makalah dalam PROCEEDING dengan judul Pacaran dan Pengalaman Seksual Santri Studi Pada Beberapa Pondok Pesantren Di Kota Semarang

PACARAN DAN PENGALAMAN SEKSUAL SANTRI

STUDI PADA BEBERAPA PONDOK PESANTREN DI KOTA

SEMARANG

Priyadi Nugraha Prabamurti 1)

ABSTRAK

Belum tersedianya informasi yang komprehensif tentang kesehatan reproduksi remaja khususnya remaja santri di pondok pesantren, membuat upaya intervensi di bidang promosi kesehatan menjadi terkendala. Oleh karena itu riset terkait kesehatan reproduksi dalam hal pacaran dan pengalaman seksual santri diperlukan untuk memenuhi kebutuhan data dasar  untuk merancang intervensi. Survei dilakukan pada tujuh  pondok pesantren yang dipilih secara purposive sebagai tempat penelitian. Kriteria inklusi adalah santri laki laki maupun perempuan yang sudah akil balig. Data dikumpulkan melalui angket dan dianalisis secara univariat. Sebagian besar sampel berusia 15-19 th (65.9%), berasal dari perdesaan(73.1%), terdiri dari laki laki 40.6.% dan perempuan 59.4%. Pendidikan orang tua santri baik bapak maupun ibu adalah pendidikan menengah (SMP,SMA) bekerja sebagai non PNS (90%), dengan pendapatan rata rata rendah (Rp. <1.209.000/bulan). Santri yang mengaku memiliki pacar (50.5%), melakukan aktivitas seperti berpegangan tangan (58.3%), cium bibir (25%)  dan meraba/merangsang  pasangannya (16.7%). Kelompok kecil santri yang setuju seksual pranikah (9%), memiliki alasan bahwa melakukan hubungan seks adalah terjadi begitu saja,  dipaksa oleh pasangan dan  penasaran/ingin mencoba. Kelompok ini tidak menganggap bahwa keperawanan wanita dan keperjakaan laki-laki tidaklah penting saat menikah nanti.Santri yang menyatakan pernah melakukan hubungan seks (10.74%), mengaku melakukan untuk pertama kali pada rentang usia < 15 tahun – 17 tahun (50.99%). Semua menyatakan bahwa mereka menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks yang pertama, namun hanya 21.57% yang mengaku tidak memakai kondom saat melakukan hubungan seks  terakhir.Perlunya meningkatkan informasi tentang kesehatan reproduksi, dengan cara mengajak institusi terkait, baik pemerintah maupun swasta yang mampu berkontribusi mengedukasi dengan mengintervensi materi kesehatan reproduksi berbasis sekolah termasuk pondok pesantren,karena adanya captive audience serta memberikan beragam aktivitas yang bermanfaat seperti oleh raga dan seni untuk mengalihkan hasrat seksual remaja yang menggebu.

Kata Kunci : kesehatan reproduksi remaja, santri, pondok pesantren

1)      Staf Pengajar Bagian Promosi Kesehatan Masyarakat FKM Universitas Diponegoro Semarang

 

 

Be Sociable, Share!