Mengisi oral presentation Acara Seminar Nasional Kesehatan bertajuk “Tantangan Pendidikan Tinggi Kesehatan Dalam Pengembangan Program Pada Siklus Kehidupan di Era SDG’s “ yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang bekerjasama dengan PERSAKMI (Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia) pada hari Senin, tanggal 7 Desember 2015 di Hotel Gracia Ruang Merapi Semarang.

Dengan judul makalah Perkawinan dan Keinginan Punya AnakStudi Pada Beberapa Pondok Pesantren Di Kota Semarang

 

PERKAWINAN DAN KEINGINAN PUNYA ANAK

STUDI PADA BEBERAPA PONDOK PESANTREN DI KOTA SEMARANG

Priyadi Nugraha Prabamurti

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang

Corresponding author :  priyadinugraha@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang : Kurangnya informasi kesehatan reproduksi santri tentang perkawinan dan keinginan punya anak, membuat upaya intervensi di bidang promosi kesehatan  terkendala. Metode : Survei pada 7 pondok pesantren secara purposive dilakukam. Kriteria inklusi adalah santri putra dan putri yang akil balig. Data dikumpulkan dengan angket dan dianalisis univariat. Hasil : Dari 475 sampel, sebagian besar santri berusia 15-19 th (65.9%), berasal dari perdesaan (73.1%), terdiri dari putra (40.6.%) dan putri (59.4%). Persepsi tentang perkawinan dan keinginan punya anak cukup baik. Sebagian besar  mengatakan usia menikah ideal untuk pria    adalah 25 th (57,5%) sedangkan wanita  20-24 th (69,5%).  Orang tua dan santri yang  membuat keputusan dengan siapa  kelak menikah (60,42%). Santri  mengatakan  usia ideal laki-laki mempunyai anak pertama adalah >25 th (58,7%) dan perempuan 20-24 th (47,2%). Santri mengatakan jumlah anak ideal adalah dua (57,3%) dan yang paling berhak menentukan jumlah anak adalah istri dan suami (97.8%) menurut calon istri, dan 68.8 % menurut calon suami.Kesimpulan : Perlunya mengintervensi pondok pesantren agar santri mampu berkontribusi di bidang kesehatan reproduksi melalui PIK-KRR maupun Poskestren secara berkelanjutan.

Kata Kunci : perkawinan, jumlah anak, santri, pondok pesantren

Be Sociable, Share!